Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

5 Fungsi Charge Coontroller Pada PLTS

Apa fungsi dari komponen Charge Controller PLTS? Bagaimana penjelasan dari fungsi charge controller PLTS?

Salah satu komponen penting pada pembangkit listrik tenaga surya adalah Charge Controller. Komponen tersebut memiliki fungsi dalam mengatur kualitas listrik yang masuk ke baterai dan keluar menuju beban. Untuk penjelasan lengkapnya, berikut ini merupakan 5 fungsi charge controller pada Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
fungsi charge controller

1.   Pengisian Berlebih (Overcharge)

Pengisian daya listrik ke dalam baterai harus dikontrol karena pengisian yang berlebih (overcharge) ke baterai atau dengan kata lain batrai tetap dialiri energi listrik meskipun dalam keadaan penuh akan membuat gelembung gas pada batrai sehingga cairan pada baterai akan berkurang dan dapat mengurangi umur atau lama pemakaian batreai. Dengan adanya charge controller yang berfungsi memutus aliran listrik ke batrai ketika dalam keadaan penuh. Pemutusan aliran listrik tersebut dilakukan secara elktronik oleh charge controller bekerja secara otomatis ketika batrai sudah penuh.

Pemutusan aliran listrik dapat dipantau (diketahui) melalui pengukuran tegangan baterai, yaitu baterai dikatakan penuh jika tegangan baterai (untuk sitem 12V) telah mencapai sekitar antara 13,8 s/d 14,5 V. Baterai akan mengeluarkan gelembung-gelembung gas jika tegangan baterai telah mencapai sekitar antara 14,5 s/d 15,0 V. Oleh karena itu apabila tegangan baterai teleh mencapai sekitar 13,8–14,5 V, maka pengisian arus listrik tersebut harus segera diputuskan.


2.   Pengurasan Berlebihan (Underdischarge

Pengurasan daya baterai secara berlebihan (underdischarge) sampai daya batrai dalam keadaan kosong dapat membuat umur baterai berkurang. Pengguanaan daya batrai yang berlebihan tersebut bisa diakibatkan oleh penggunaan beban yang terlalu banyak dan disaat bersamaan tidak ada supply listrik ke batrai. Standarnya aliran listrik dari batrai harus diputuskan ke beban ketika daya batrai minimal sebesar 30%. Untuk mencegah underdischarge, pada sistem PLTS harus dipasangkan charge controller  yang  berfungsi untuk  memutus aliran listrik dari batrai ke beban secara otomatis ketika batrai dalam keadaan lemah. Pemutusan tersebut dapat diketahui dari tegangan baterai, jika tegangan baterai telah mencapai sekitar 11,4 s/d 11,7 volt. Oleh karena itu apabila tegangan baterai telah mencapai sekitar 11,4 – 11,7 volt, maka penggunaan arus listrik dari baterai harus dihentikan atau hubungan beban ke baterai harus segera diputuskan. 


3.   Load Reconnect Voltage

load disconnect voltage, yaitu tegangan dimana beban akan diputus dari sistem. Hal tersbut dilakukan untuk mencegah apabila baterai terlalu sering mencapai kondisi kosong akan menyebabkan sulfasi baterai sehingga baterai akan cepat menjadi rusak.  Daerah tegangan kerja baterai adalah daerah tegangan dimana sistem PLTS masih mampu menyalakan beban. Untuk Sistem tegangan 12 V, maka daerah tegangan kerja baterai adalah antara 11,4 V-14,5 V. Biasanya dalam pemakaian sehari-hari harus diusahakan agar pemakaian beban jangan sampai menyebabkan tenganan baterai mencapai 11,4 V, karena apabila mencapai titik tegangan tersebut, beban akan segera dimatikan secara otomatis. 


4.  Proteksi Hubung Singkat (Short Circuit Protection)

Hubung singkat yang dimaksud adalah bertemunya polaritas positif (+) dan polaritas negatif (-) secara langsung. Hubung singkat ini bisa terjadi akibat adanya kesalahan dalam wiring, adanya benda bersifat konduktor yang menghubungkan kedua polaritas tersebut dll. Ketika terjadi hubung singkat, arus pada sistem akan meningkat drastis yang apabila dibiarkan dapat merusak peralatan elektronik sebagai beban. Untuk mengamnkan gangguan hubung singkat tersebut maka dipasanglah charge controller yang memiliki komponen pengaman berupa sekering di dalamnya. Jadi ketika terjadi hubung singkat maka arus yang tinggi akan memutus sekering yang ada dalam charge controller  sehingga sistem yang mengalami gangguan akan diamankan atau dipisahkan dari beban.


5.   Proteksi Polaritas

Kesalahan polaritas atau terbaliknya polaritas positif (+) dan negatif (-) bisa merusak sistem PLTS dan peralatan listrik sebagai beban (DC). Kesalahan tersebut bisa diakibatkan oleh ketidaktelitian dalam pengawatan (wiring) dan juga pemasangan pada beban (DC). Perlindungan terhadap polaritas terbalik untuk hubungan panel surya – charge controller adalah dilakukan dengan memberikan suatu Blocking-Diode, yang sekaligus merupakan pencegahan arus balik reversecurrent dari baterai menuju panel surya, sedangkan perlindungan polaritas terbalik untuk hubungan baterai – charge controller, harus dilengkapi dengan beberapa tambahan komponen atau rangkaian elektronik.   


Jadi itulah fungsi dari Charge Controller pada pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). Jika ada kesalahan mohon dikoreksi pada kolom komentar. Sekian dan termia kasih.

Ashar Arifin
Ashar Arifin Seorang Mahasisiwa Teknik Elektro Yang Gemar Menulis Artikel Dan Berbagi Ilmu Bermanfaat

Post a Comment for "5 Fungsi Charge Coontroller Pada PLTS "